Jumat, 28 September 2012

Rahasia Sang Alkemis


Started on : 01 September 2012
Finished on : 17 September 2012


The Alchemist's Secret
by. Scott Mariani



510 pages
Published 2011 by Qanita (first published March 31st 2007)
ISBN 139786028579780
Edition language Indonesian
Original titleThe Alchemist's Secret




Sinopsis :

Seorang mantan anggota pasukan elite, yang memiliki mimpi buruk di masa lalu berupaya menebusnya di masa kini. Dialah Benedict Hope atau yang lebih dikenal dengan Ben Hope.

Kehilangan adiknya di masa lalu membuat Ben akhirnya memutuskan untuk membantu orang-orang yang "kehilangan" anaknya. Keahlian yang diperolehnya selama menjadi pasukan elite, memberinya keuntungan untuk menyergap dan menghabisi penculik anak klien-kliennya tanpa jejak. Sampai akhirnya Ia mendapat satu klien yang meminta bantuannya untuk tugas yang lain dari biasanya.

Kliennya ini meminta bantuan untuk menemukan sebuah manuskrip berharga yang berisi formula [I]elixir of life[/I] demi mengobati cucunya yang hidupnya diperkirakan tidak lama lagi akibat kanker ganas yang menggerogoti kesehatannya. Manuskrip tersebut adalah kepunyaan Fulcanelli seorang ilmuwan alkimia terkenal.

Pencarian itu tak mudah, banyak pihak bertujuan jahat yang juga mengincar manuskrip berisi formula ajaib tersebut. Dibantu oleh seorang peneliti alkimia cantik, Dr. Ryder, Ben Hope pun menguak misteri demi misteri yang menyelubungi ramuan rahasia cairan yang bisa menyembuhkan penyakit dan memperpanjang usia tersebut.

Apakah manuskrip tersebut benar-benar ada? dan apakah Ben Hope berhasil mendapatkannya?


Review :

Alasan pertama kali mengapa aku tertarik untuk membeli buku ini adalah karena judul dan kover bukunya.

The Alchemist's Secret

Buatku judul tersebut menawarkan sebuah kemisteriusan dari sebuah tema yang masih misterius. Saat itu aku membayangkan bahwa aku akan menemukan kenikmatan membaca seperti halnya membaca karya-karyanya Dan Brown. Memecahkan berbagai macam simbol atau mungkin bakal terkesima dengan kejutan-kejutan di dalamnya.

Ditambah lagi dengan desain kover yang menarik. Perhatikan kata-kata yang ditulis melingkar di kover buku ini. Itu adalah VITRIOL. Kalian yang belum pernah mendengar istilah VITRIOL kuberi tahu ya.. VITRIOL atau Visita Interiora Terrae, Rectificando Invenies Occultam Lapidem adalah moto alkimia yang tertulis dalam L'Azoth des Philosophes karya alkimiawan abad ke-15 Basilius Valentinus. Yang artinya adalah kunjungi bagian dalam bumi dan murnikanlah, maka anda akan menemukan batu rahasia.

Batu rahasia dalam sebuah moto tentang alkimia. Hmm.. Apakah kalian akan sepertiku yang ingatannya langsung tertuju pada salah satu judul dalam serial Harry Potter? Kalau iya, maka pikiran kalian tidaklah salah. Karena batu rahasia yang dimaksud dalam moto alkimia tersebut adalah philosopher's stone. Batu bertuah atau batu filsuf adalah elemen penting yang membantu proses alkimia itu sendiri. Lalu apakah yang dimaksud dengan batu bertuah tersebut? Batu bertuah yang dimaksud ternyata adalah garam-garam vitriol. Loh... bukannya VITRIOL itu merupakan singkatan dari moto alkimia ya? Hmm.. perlu kalian ketahui satu lagi rahasia dari moto alkimia ini adalah kata VITRIOL itu sendiri. Kata VITRIOL ini selain merupakan singkatan dari moto alkimia tersebut, juga merujuk pada senyawa sulfat. Vitriol berasal dari bahasa latin yaitu vitreus yang berarti gelas, disebut garam vitriol karena garam-garam sulfat memiliki bentuk seperti gelas. Garam-garam vitriol yang sangat murni dapat digunakan sebagai media reaksi zat-zat lainnya tetapi ajaibnya tidak dapat bereaksi dengan emas. Perhatikan fakta ini dan hubungkan dengan arti dari moto alkimia serta maksud dari ilmu alkimia itu sendiri... Jenius bukan? :)

Dan lagi moto alkimia ini ditulis melingkari berbagai macam simbol dalam kover buku ini. Oh... lihatlah.. Ada mahkota kerajaan disitu, lalu ada juga elang berkepala dua. Yang apabila kedua lambang tersebut disatukan maka akan menjadi sebuah lambang freemasonry dan apabila hanya lambang elang berkepala dua saja bisa berarti lambang Kerajaan Byzantium di masa lampau yang sekarang banyak diadopsi oleh negara-negara dengan mayoritas beragama Kristen Ortodoks sama seperti dengan mayoritas agama penduduk Kerajaan Byzantium. Hmm.. dualisme simbol :D menarik bukan? Aku rasanya semakin tak sabar dalam membaca buku ini.

Cerita dalam buku ini dimulai dengan seorang pria berkemeja compang camping yang sedang berusaha memutilasi dirinya sendiri menggunakan sebuah pisau bergagang emas di depan seorang pendeta, sembari mengucapkan kalimat-kalimat yang asing. Pembukaan seperti ini mungkin dimaksudkan untuk memberi efek artistik tertentu, yang memberikan kejutan dan membangkitkan rasa ingin tahu pembaca. Cukup berhasil, aku jadi penasaran untuk melanjutkan membacanya..

Tapi sayangnya semakin banyak halaman yang kubaca, dahiku semakin berkerut. Ini tidak ada hubungannya dengan terjemahan atau ukuran font atau line spacing buku ini ya, karena semua itu tidak masalah. Tapi lebih disebabkan karena buku ini memiliki plot yang rumit dengan alur yang maju mundur. Terlalu banyak tokoh yang saling berkaitan di masa lalu dan masa sekarang, dengan nama yang susah diingat. Lalu juga terlalu banyak part yang diceritakan terpisah, yang akhirnya akan saling berkaitan. Hal ini membuat aku harus fokus dalam membacanya. Benar-benar fokus. Karena sedikit saja pikiran kita melayang, kita akan lupa dengan apa saja yang sudah diceritakan di bab-bab sebelumnya. Dan itulah yang terjadi pada diriku. Hehehe.

Ketidakfokusan diriku dalam membaca buku ini bukan karena teralihkan oleh faktor eksternal ya, tapi karena semakin lama cerita dalam buku ini semakin tidak menarik minatku. Alasannya pertama adalah, karena Scott Mariani terlalu bertele-tele. Banyak detail yang seharusnya tak perlu diceritakan tapi malah diceritakan. Hal ini juga merusak imajinasi pembaca. Yang kedua adalah penantianku terhadap pemecahan simbol-simbol misterius yang berhubungan dengan alkimia tidak juga aku temukan, bahkan sampai pertengahan halaman buku ini. 

Jika kalian adalah pembaca yang mencintai penyelesaian simbol-simbol misterius dan fakta-fakta sejarah yang mencengangkan dari tema-tema secret societies semacam ini -seperti yang sering ditemukan pada buku-bukunya Dan Brown-, buku ini akan terasa sangat membosankan. Karena buku ini lebih banyak menekankan "action" daripada pemecahan-pemecahan misteri. Lebih banyak aksi tembak menembak dibandingkan dengan penelusuran fakta dan sejarah. 

Buku yang aku harapkan berisikan lebih mendalam tentang alkimia ini ternyata hanya menjadikan alkimia sebagai "pemain hiburan". Hanya sebagai pelengkap cerita. Scott Mariani dalam buku ini sepertinya tidak terlalu ambil pusing dengan fakta sejarah dan kontroversi-kontroversi mengenai alkimia itu sendiri. Semua hanya diceritakan sepintas lalu. Beda sekali dengan Da Vinci Code, dimana pada bagian tengah cerita kita seperti dibangunkan dengan "fakta" versi Dan Brown yang menyebutkan kalau lukisan The Last Supper memiliki implikasi sejarah yang amat serius dan panjang. 

Dan cerita dengan plot yang rumit ini semakin terlihat konyol dan tidak masuk akal ketika dalam semua aksi tembak-menembak tersebut, sang tokoh utama selalu berhasil lolos. Bahkan ada satu adegan dimana sang tokoh utama dikepung oleh para penembak jitu, dan tetap saja lolos. Bahkan dia berhasil membunuh semua lawan-lawannya sendirian dan mengelabui polisi.. *Clap clap clap* ini sangat terlihat tidak logis menurutku. 

Kemudian yang ketiga adalah.. Suspense nya manaaaa ?????? Duh Tuhan.. Meskipun banyak sekali adegan-adegan bunuh-bunuhan di cerita ini, aku sama sekali tidak tegang. Tidak merasa tuh ikut dalam petualangan Ben Hope. Scott Mariani gagal membangun narasi-narasi yang mencekam yang mendorong, menggelitik dan memotivasi aku untuk setia mengikuti cerita dan mencari jawaban dari rasa ingin tahu terhadap kelanjutan serta akhir cerita. Akibatnya tidak ada emosi sama sekali saat membaca buku ini.

Dan yang keempat adalah, tidak adanya kejutan di dalamnya. Dari awal aku membacanya, aku sudah tahu bahwa Om Scott ini meniru pakem nya Dan Brown dalam bercerita. Seorang tokoh utama pria lajang yang tampan, lalu ditemani dengan wanita yang cantik dan pintar, kemudian tipe penjahat dengan latar belakang yang sama, tapi kok bisa-bisanya sih beliau memilih twist akhir cerita yang juga tidak jauh berbeda?

Fiuh..

Jika di awal aku terkesima dengan judul dan kover buku ini, setelah membacanya justru aku malah jadi merasa ditipu. Isi buku ini tidak seimbang misteriusnya dengan kover dan judulnya. Sungguh amat disayangkan. Padahal tema secret societies seperti ini masih sangat misterius kebenarannya sehingga bisa dieksplor dari segala sisi. Rasa-rasanya aku seperti sedang membaca sebuah karya penulis yang sedang dikejar deadline. Semua serba tanggung. 

Oleh karena itulah dari lima bintang yang aku punya, aku hanya bisa memberikannya dua buah. Sebagai penghormatanku terhadap pemilihan judul dan kover yang jenius.




Earth


Earth
by. Agnes Jessica

Meyvioline terkurung dalam rumah sebuah keluarga yang tidak ia kenal, secara tak sengaja, kesialan yang hanya satu banding sejuta, dan kemungkinan besar kebetulan. Tapi belakangan ia tahu bahwa semua itu bukanlah kebetulan.
Ada sebuah tangan penuh kuasa yang tidak kelihatan yang melakukan itu. Garnet, rapper terkenal seantero Indonesia, tak pernah mau diatur walau oleh orang tuanya sekalipun, kali ini terpaksa mengais-ngais tembok untuk sebuah jalan keluar dari kamarnya sendiri, seperti seorang terhukum dalam penjara.
Mereka berdua terpaksa bekerja sama. Terpaksa, catat itu. Karena Mey tidak akan mau melakukannya sekali lagi untuk seribu tahun ke depan. Akhirnya mereka menyadari, ada sebuah kuasa di luar bukit yang mengendalikan bumi ini. Bahkan mengendalikan hidup mereka, walaupun mereka memiliki kehendak bebas untuk memilih. Segala sesuatu yang sudah ditetapkan untuk terjadi di bumi ini, harus terjadi.

Hmm.. Ini pertama kalinya saya baca buku dari Agnes Jessica. Tertarik membacanya karena cover dan sinopsisnya yang oke. Dari sinopsisnya tuh seakan-akan buku ini akan penuh konflik dan misteri. Ternyata saya salah . Buku ini hanya buku roman picisan biasa, dengan segala konflik yang dilebih-lebihkan, ditambah-tambahkan dan dibalut dalam nuansa religi Nasrani. Banyak firman-firman Tuhan yang bertebaran dalam buku ini, karena memang sang tokoh utama Meyvioline diceritakan dibesarkan oleh ayah yang seorang pendeta, pendeta yang berkeinginan membuat gereja nya sendiri dengan kolam baptis yang luas.

Konfliknya berkisah seputar Garnet mencintai Meyvioline tapi Meyvioline mencintai Lintang, lalu kegundahan hati Meyvioline. Tiga tokoh yang banyak diceritakan dalam kisah ini, walaupun pada akhirnya Meyvioline membalas cinta garnet. Sampai disini saya kira cerita selesai dan garnet serta meyvioline akan hidup bersama bahagia selamanya, tapi ternyata enggak. Ada konflik baru lagi yang menggangu hubungan mereka. Hehehe udah ketebak sebenernya sih bakal ada konflik lagi, soalnya jumlah halaman sisanya masih banyak 

Menurut saya, buku ini sinetron banget. Pernah nonton sinetron Tersanjung yang sekuel nya sampai Tersanjung V, atau Cinta Fitri yang kalau gak salah sampai session 7 ?? nah.. buku ini ya kayak gitu. Ceritanya mbulet. Beres satu konflik lalu timbul konflik lainnya.. super duper sinetron. Mungkin kalau tidak dibatasi jumlah halaman, cerita ini bisa berlanjut terus dan terus 

Tapi sayangnya, penulis tidak berani untuk membuat ending yang di luar perkiraan pembaca, jadi walau sudah muter-muter kemana-mana tetap saja akhir ceritanya sama seperti yang kita bayangkan. Padahal kalau saja ending nya berbeda, mungkin bakal ada sedikit kejutan dalam buku ini selain kejutan kalau isi buku ini tidak se oke synopsis nya 

Biasanya ya, saya mudah sekali terpengaruh dengan jalan cerita sebuah novel roman. Jika sang tokoh utama sedih, galau atau bahagia pasti saya bisa merasakannya. Tapi di buku ini, dari sekian banyak konflik, saya sama sekali gak merasakan perubahan emosi apa-apa. Datar saja dari awal sampai akhir. Maaf kak agnes Jessica, tapi menurut saya buku ini membosankan. Buku ini tidak bisa membuat saya tenggelam ke dalamnya, buku ini gak ada magnet nya. Saya cuma bisa memberi dua bintang dari lima bintang yang saya punya.

Tapi apa yang saya rasakan, belum tentu orang lain rasakan, mungkin buku ini memang bukan selera saya, tapi siapa tau kalian suka ketika membacanya. siapa yang tahu 


Rate : 2/5

When God Was a Rabbit


When God Was a Rabbit
by. Sarah Winman


Hal yang harus kita temukan kali pertama, adalah alasan untuk hidup. Kalau tak ada alasan, buat apa repot-repot ?. Keberadaan harus bertujuan : agar sanggup menahan derita hidup secara terhormat, memberi kita alasan untuk tidak menyerah. Maknanya harus meresap dalam hati kita, bukan otak kita. Kita harus memahami makna kesengsaraan itu sendiri.


Sebuah novel yang sarat kesatiran ini bersetting di Inggris pada tahun 60-70 an, lalu pindah ke new york sebelum kejadian menghebohkan yg meluluh lantakkan world trade center pada tanggal 9 september.
Elanor Maud seorang gadis cilik yang biasa dipanggil elly, memiliki keluarga yang sempurna. Ayah, ibu serta seorang kakak laki-laki yang menyayanginya, semua bermula baik-baik saja sampai suatu ketika masalah dimulai.
Kakek & nenek elly tewas dalam sebuah kecelakaan, sehingga menimbulkan depresi yang mendalam pada Ibunya. Dari kejadian itulah, Elly mulai mempertanyakan bagaimana Tuhan bekerja. Pernahkah kita bertanya pada diri kita, kenapa Tuhan masih saja memberikan hal-hal yang baik untuk orang-orang yang jahat? dan mengapa harus terjadi hal-hal yang buruk pada orang-orang yang baik?. Pertanyaan ini lah yg ditanyakan elly kepada ibunya.

"Apakah Tuhan mengasihi semua orang ?" tanyanya pada ibunya
"tentu saja" jawab ibunya
"Apakah Tuhan mengasihi pembunuh?"
"Ya"
"perampok?"
"Ya"
"tinja?" tanyanya lanjut
"Tinja bukan makhluk hidup sayang" jawab ibunya serius
"Tapi, kalau ya, akankah Tuhan mengasihinya?"
"Ya, kurasa begitu." jawab ibunya.

Itulah sekelumit percakapan Elly dengan ibunya, Percakapan Itu terjadi ketika Elly mendapati dirinya lahir dari sebuah kehamilan tak terencana. Hal yang sama yang menurut dia terjadi juga pada proses kelahiran Yesus Kristus. Pernyataan yang polos, yang membuatnya dihukum oleh pendeta di sekolah minggu nya. Saya tertawa pada bagian ini, bukan maksud untuk menghina Yesus Kristus, tapi tertawa karena Elly polos sekali, kepolosan seorang anak kecil yg digambarkan dengan tepat dan baik oleh Sarah Winman.

Secara umum, buku ini bercerita tentang hubungan penuh kasih antara Elly dan Joe kakaknya serta dengan Jenny penny teman sekolahnya. Tinggal di lingkungan keluarga yang secara kasat mata bahagia, tidak membuat Elly lepas dari masalah. Mr. Golan, tetangga baru nya yang seorang yahudi ternyata pernah melakukan pelecehan seksual terhadap elly, tak hanya itu.. Elly yang selama ini "kagum" dengan cerita-cerita Mr. Golan tentang bagaimana Ia menjadi korban dari tragedi Holocaust dan berhasil selamat dari kamp penyiksaan, ternyata harus menelan kenyataan pahit kalau seluruh cerita nya adalah bohong. Hal ini terungkap saat saudari Mr. Golan yang bernama Esther memberitahunya saat Mr. Golan yang ternyata memiliki cacat mental itu ditemukan bunuh diri.

Berawal dari hal itulah.. dihukum di sekolah minggunya, lalu menjadi korban pelecehan seksual, dan mendapati dibohongi oleh orang yang sudah dipercayainya, membuat Elly berfikir kalau Tuhan mencintai semua orang, kecuali dirinya. Dan pemikiran tersebut akhirnya berujung pada kesimpulan, jika Tuhan tidak mencintainya, maka Ia harus menemukan sesuatu yang bisa mencintainya. Hal ini lah yang membuat Elly dengan senang hati menerima usulan Joe untuk menamai trewelu belgia (salah satu jenis kelinci) yang baru saja diterimanya dari Joe sabagai hadiah Natal dengan nama GOD yang berarti Tuhan. Sindiran yang cerdas.

Dibalik semua masalah yang harus dihadapi oleh Elly seperti kasus pelecehan seksual terhadap dirinya, penyakit kanker yang diderita ibunya, bunuh diri, pemboman, penculikan, sampai kenyataan bahwa ternyata kakak tercintanya menderita disorientasi seksual, buku ini juga mengajarkan kita tentang hubungan kasih antara kakak dan adik serta persahabatan yang tulus. Selain itu pula Sarah Winman dengan cantik mampu meramu sebuah cerita dan mengkaitkan dengan peristiwa-peristiwa bersejarah yang terjadi. Seperti mengadopsi cerita penculikan J Paul Getty III yang terjadi pada tahun 1973 ke dalam satu karakter, lalu tentang kematian John Lenon dan mendiang Putri Diana, sampai peristiwa 9/11. 

Membaca buku ini rasanya kayak makan permen Nano-nano, kadang sedih, kadang tertawa bahkan tak jarang tersenyum getir. Jujur saja, jenis buku yang (menurut istilah teman saya Dani Noviandy) bisa membuat otak mengawang-ngawang seperti ini bukan buku favorite saya. Hanya cerita yang bagus saja yang bisa membuat saya bertahan untuk membacanya sampai akhir, dan ternyata.. saya membaca buku ini sampai akhir (horeeeee !!!!) . Overall, empat bintang buat buku ini.