Jumat, 28 September 2012

When God Was a Rabbit


When God Was a Rabbit
by. Sarah Winman


Hal yang harus kita temukan kali pertama, adalah alasan untuk hidup. Kalau tak ada alasan, buat apa repot-repot ?. Keberadaan harus bertujuan : agar sanggup menahan derita hidup secara terhormat, memberi kita alasan untuk tidak menyerah. Maknanya harus meresap dalam hati kita, bukan otak kita. Kita harus memahami makna kesengsaraan itu sendiri.


Sebuah novel yang sarat kesatiran ini bersetting di Inggris pada tahun 60-70 an, lalu pindah ke new york sebelum kejadian menghebohkan yg meluluh lantakkan world trade center pada tanggal 9 september.
Elanor Maud seorang gadis cilik yang biasa dipanggil elly, memiliki keluarga yang sempurna. Ayah, ibu serta seorang kakak laki-laki yang menyayanginya, semua bermula baik-baik saja sampai suatu ketika masalah dimulai.
Kakek & nenek elly tewas dalam sebuah kecelakaan, sehingga menimbulkan depresi yang mendalam pada Ibunya. Dari kejadian itulah, Elly mulai mempertanyakan bagaimana Tuhan bekerja. Pernahkah kita bertanya pada diri kita, kenapa Tuhan masih saja memberikan hal-hal yang baik untuk orang-orang yang jahat? dan mengapa harus terjadi hal-hal yang buruk pada orang-orang yang baik?. Pertanyaan ini lah yg ditanyakan elly kepada ibunya.

"Apakah Tuhan mengasihi semua orang ?" tanyanya pada ibunya
"tentu saja" jawab ibunya
"Apakah Tuhan mengasihi pembunuh?"
"Ya"
"perampok?"
"Ya"
"tinja?" tanyanya lanjut
"Tinja bukan makhluk hidup sayang" jawab ibunya serius
"Tapi, kalau ya, akankah Tuhan mengasihinya?"
"Ya, kurasa begitu." jawab ibunya.

Itulah sekelumit percakapan Elly dengan ibunya, Percakapan Itu terjadi ketika Elly mendapati dirinya lahir dari sebuah kehamilan tak terencana. Hal yang sama yang menurut dia terjadi juga pada proses kelahiran Yesus Kristus. Pernyataan yang polos, yang membuatnya dihukum oleh pendeta di sekolah minggu nya. Saya tertawa pada bagian ini, bukan maksud untuk menghina Yesus Kristus, tapi tertawa karena Elly polos sekali, kepolosan seorang anak kecil yg digambarkan dengan tepat dan baik oleh Sarah Winman.

Secara umum, buku ini bercerita tentang hubungan penuh kasih antara Elly dan Joe kakaknya serta dengan Jenny penny teman sekolahnya. Tinggal di lingkungan keluarga yang secara kasat mata bahagia, tidak membuat Elly lepas dari masalah. Mr. Golan, tetangga baru nya yang seorang yahudi ternyata pernah melakukan pelecehan seksual terhadap elly, tak hanya itu.. Elly yang selama ini "kagum" dengan cerita-cerita Mr. Golan tentang bagaimana Ia menjadi korban dari tragedi Holocaust dan berhasil selamat dari kamp penyiksaan, ternyata harus menelan kenyataan pahit kalau seluruh cerita nya adalah bohong. Hal ini terungkap saat saudari Mr. Golan yang bernama Esther memberitahunya saat Mr. Golan yang ternyata memiliki cacat mental itu ditemukan bunuh diri.

Berawal dari hal itulah.. dihukum di sekolah minggunya, lalu menjadi korban pelecehan seksual, dan mendapati dibohongi oleh orang yang sudah dipercayainya, membuat Elly berfikir kalau Tuhan mencintai semua orang, kecuali dirinya. Dan pemikiran tersebut akhirnya berujung pada kesimpulan, jika Tuhan tidak mencintainya, maka Ia harus menemukan sesuatu yang bisa mencintainya. Hal ini lah yang membuat Elly dengan senang hati menerima usulan Joe untuk menamai trewelu belgia (salah satu jenis kelinci) yang baru saja diterimanya dari Joe sabagai hadiah Natal dengan nama GOD yang berarti Tuhan. Sindiran yang cerdas.

Dibalik semua masalah yang harus dihadapi oleh Elly seperti kasus pelecehan seksual terhadap dirinya, penyakit kanker yang diderita ibunya, bunuh diri, pemboman, penculikan, sampai kenyataan bahwa ternyata kakak tercintanya menderita disorientasi seksual, buku ini juga mengajarkan kita tentang hubungan kasih antara kakak dan adik serta persahabatan yang tulus. Selain itu pula Sarah Winman dengan cantik mampu meramu sebuah cerita dan mengkaitkan dengan peristiwa-peristiwa bersejarah yang terjadi. Seperti mengadopsi cerita penculikan J Paul Getty III yang terjadi pada tahun 1973 ke dalam satu karakter, lalu tentang kematian John Lenon dan mendiang Putri Diana, sampai peristiwa 9/11. 

Membaca buku ini rasanya kayak makan permen Nano-nano, kadang sedih, kadang tertawa bahkan tak jarang tersenyum getir. Jujur saja, jenis buku yang (menurut istilah teman saya Dani Noviandy) bisa membuat otak mengawang-ngawang seperti ini bukan buku favorite saya. Hanya cerita yang bagus saja yang bisa membuat saya bertahan untuk membacanya sampai akhir, dan ternyata.. saya membaca buku ini sampai akhir (horeeeee !!!!) . Overall, empat bintang buat buku ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar